Beranda » Ekonomi Bisnis » Indeks Saham Wall Street Anjlok Selama Tiga Pekan Akibat Ketegangan Militer Amerika Serikat dan Iran

Indeks Saham Wall Street Anjlok Selama Tiga Pekan Akibat Ketegangan Militer Amerika Serikat dan Iran

Wall Street kembali terperosok selama tiga minggu berturut-turut. Sentimen investor terus tertekan akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Perang yang meletus sejak akhir Februari 2026 itu memicu volatilitas tajam di pasar modal, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz dan harga minyak melonjak.

Indeks S&P 500 tercatat turun 0,6% pada penutupan Jumat, 13 Maret 2026. Penurunan ini menutup pekan yang buruk, di mana indeks kehilangan hampir 4% hanya dalam dua minggu. Nasdaq juga ikut terperosok, turun 0,9%, sementara Dow Jones terkoreksi 0,3%. Dalam hitungan mingguan, kerugian Dow mencapai sekitar 2%, dan Nasdaq bahkan lebih dalam, minus 1,3%.

Sentimen Pasar Tertekan oleh Ketidakpastian Geopolitik

Konflik di Timur Tengah masih belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer AS telah “benar-benar menghancurkan” infrastruktur militer dan ekonomi Iran. Namun, pernyataan itu belum cukup untuk menenangkan pasar.

Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, justru memperkuat posisi keras Teheran dengan menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup. Jalur air strategis ini menjadi jalur utama perdagangan minyak global, dan penutupannya memicu lonjakan harga minyak Brent hingga 11% dalam seminggu.

1. Serangan Militer Terus Berlanjut

AS dan Israel terus melakukan serangan udara intensif ke wilayah Iran dan sekutunya. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengungkapkan bahwa lebih dari 15.000 target telah dihancurkan dalam beberapa hari terakhir. Serangan terbesar dilaporkan terjadi pada hari Jumat, yang menjadi hari dengan volume serangan tertinggi sepanjang konflik.

2. Iran Balas dengan Mengontrol Jalur Strategis

Iran membalas dengan mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz. Langkah ini tidak hanya simbolis, tapi juga berdampak langsung pada pasokan minyak global. Departemen Keuangan AS pun akhirnya mengizinkan pembelian minyak Rusia yang terkena sanksi sebagai langkah darurat.

3. AS Siapkan Pengawalan Kapal Komersial

Untuk mengamankan jalur perdagangan, Angkatan Laut AS mulai memberikan pengawalan kepada kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Langkah ini diharapkan bisa mengurangi risiko gangguan logistik dan menekan lonjakan harga minyak lebih lanjut.

Baca Juga:  Indeks Saham Wall Street Terpuruk Akibat Lonjakan Biaya Energi Global

Harga Minyak Melesat, Brent Sentuh Level USD100

Lonjakan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang memicu tekanan di pasar saham. Brent, sebagai acuan harga minyak global, mencatat kenaikan mingguan lebih dari 11%, mencapai USD103,29 per barel. Ini adalah level tertinggi sejak konflik meletus.

Sebelum perang, harga minyak masih berada di kisaran USD70 per barel. Namun, dengan eskalasi serangan dan penutupan jalur strategis, harga sempat melonjak hingga hampir USD120 per barel. Fluktuasi ekstrem ini membuat investor was-was.

4. Investor Belum Yakin Kenaikan Minyak Bertahan Lama

Menurut analis dari Capital Economics, investor saat ini memperkirakan peluang harga minyak mencapai USD100 atau lebih dalam tiga bulan ke depan adalah 1 banding 5. Artinya, mayoritas pasar masih ragu bahwa lonjakan ini akan bertahan lama.

5. Spekulasi Stagflasi Muncul di Tengah Inflasi yang Naik

Data inflasi yang dirilis pekan ini juga tidak membantu. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti naik 0,4% secara bulanan dan 3,1% secara tahunan pada Januari 2026. Angka ini masih jauh di atas target inflasi Fed sebesar 2%.

Chris Zaccarelli dari Northlight Asset Management menyebut bahwa kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melambat dan inflasi yang tinggi bisa membawa AS ke ambang stagflasi. “Kekhawatirannya adalah kita menuju stagflasi. Tapi jika konflik ini cepat berakhir, dampaknya bisa diredam,” ujarnya.

Data Ekonomi AS Tercatat Lebih Lemah dari Perkiraan

Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk kuartal IV 2025 direvisi turun dari 1,4% menjadi hanya 0,7%. Revisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi sebenarnya lebih lemah dari yang diperkirakan sebelumnya.

Lowongan pekerjaan Januari juga mencatat angka 6,946 juta, sedikit lebih tinggi dari estimasi 6,75 juta, tapi lebih rendah dari Desember. Meski pasar tenaga kerja masih menunjukkan ketahanan, tren perekrutan mulai melambat.

6. Pasar Tenaga Kerja Masih Stabil tapi Tertahan

Angka lowongan kerja yang tinggi menunjukkan bahwa permintaan tenaga kerja masih kuat. Namun, laju perekrutan yang melambat bisa menjadi indikator awal perlambatan ekonomi yang lebih luas, terutama jika konflik berkepanjangan.

Baca Juga:  Indeks Saham Amerika Serikat Mengalami Kenaikan Meskipun Ketegangan Iran Tetap Menjadi Perhatian Investor Global

7. Inflasi Tetap Tinggi, Kendati Data PCE Sesuai Perkiraan

Data PCE inti yang sesuai ekspektasi belum cukup untuk menenangkan pasar. Pasalnya, data ini belum mencerminkan dampak penuh dari lonjakan harga minyak akibat perang. Investor khawatir inflasi bisa kembali melonjak dalam beberapa pekan mendatang.

Dampak Jangka Pendek dan Tantangan ke Depan

Wall Street kini berada di titik kritis. Investor terus memantau perkembangan konflik dan kebijakan pemerintah untuk menentukan langkah selanjutnya. Jika eskalasi berlanjut, tekanan terhadap pasar bisa semakin besar.

Namun, jika ada tanda-tanda penyelesaian konflik, pasar bisa segera pulih. Investor saat ini berada di posisi waspada, menunggu isyarat dari kedua belah pihak.

8. Pasar Butuh Kejelasan dari Pemerintah AS

Investor mengharapkan kebijakan yang jelas dari pemerintah AS untuk mengatasi tekanan inflasi dan memastikan stabilitas pasokan energi. Langkah-langkah seperti izin pembelian minyak dari Rusia dan pengawalan kapal adalah awal yang baik, tapi belum cukup.

9. Sentimen Investor Tergantung pada Durasi Konflik

Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar risiko dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi global. Pasar saat ini memasang skenario dua jalur: konflik singkat dengan dampak terbatas, atau perang berkepanjangan yang bisa memicu resesi.

Kesimpulan

Wall Street tengah menghadapi tekanan besar akibat ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak. Sentimen investor terus tertekan, dan data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan AS mulai melambat. Semua mata tertuju pada perkembangan konflik Iran dan langkah-langkah yang akan diambil oleh pemerintah AS ke depannya.

Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat simulasi berdasarkan skenario fiktif dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi aktual.

Nurkasmini Nikmawati
Reporter at Desa Pengkol

Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.