Beranda » Ekonomi Bisnis » Dolar Amerika Serikat Anjlok Usai Perkasa Bersama Kenaikan Harga Minyak Dunia

Dolar Amerika Serikat Anjlok Usai Perkasa Bersama Kenaikan Harga Minyak Dunia

Dolar AS sempat menunjukkan performa kuat selama beberapa hari terakhir. Namun, tren itu berbalik arah seusai terjadinya gejolak di pasar energi global. Pelemahan nilai tukar dollar terlihat jelas di tengah lonjakan volatilisasi harga minyak mentah dunia. Perputaran besar di pasar keuangan ini tidak hanya memengaruhi mata uang paling dominan di dunia itu sendiri, tetapi juga berimbas pada sejumlah mata uang penting lainnya.

Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam pasangan mata uang utama turun 0,36 persen, mendarat di level 98,823. Euro dan poundsterling menguat cukup signifikan, menandakan bahwa investor mulai mencari alternatif safe haven. Di sisi lain, yen Jepang dan franc Swiss juga ikut merespons dinamika ini dengan gerakan yang tak kalah menarik. Semua ini menunjukkan bahwa sentimen pasar sedang tidak stabil, dan banyak faktor eksternal yang ikut bermain.

Dinamika Pasar Mata Uang Global

Pasca-serangan udara AS-Israel ke fasilitas militer Iran, ketegangan geopolitik kembali memanas. Investor bereaksi cepat terhadap situasi ini, terutama karena dampaknya terhadap jalur pasok energi global. Minyak sebagai komoditas strategis pun langsung tersengat. Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat anjlok lebih dari 11 persen, turun ke level USD83,45 per barel.

1. Reaksi Pasar terhadap Ketegangan Geopolitik

Sentimen negatif mulai menyebar luas ketika kabar tentang operasi militer AS di Selat Hormuz viral. Awalnya, unggahan dari Menteri Energi AS menyebut bahwa Angkatan Laut AS telah mengawal kapal tanker minyak. Kabar itu langsung memicu spekulasi soal gangguan pasokan minyak. Namun, beberapa saat kemudian, klarifikasi resmi dari Gedung Putih membantah klaim tersebut. Meski begitu, kerusuhan di ranah psikologis pasar sudah terlanjur terjadi.

2. Fluktuasi Harga Minyak Dunia

Harga minyak bukan hanya dipengaruhi oleh suplai dan permintaan. Faktor politik dan keamanan juga memiliki bobot besar. WTI yang sempat mendekati level USD77 per barel akhirnya pulih sebagian. Namun, tekanan tetap terasa karena investor khawatir akan terjadinya eskalasi konflik yang lebih besar. Ini berpotensi memicu lonjakan harga energi secara global, yang pada gilirannya bisa memperparah laju inflasi.

Baca Juga:  Indeks Harga Saham Gabungan Terpantau Turun Seiring Kenaikan Harga Minyak Global

Pergerakan Nilai Tukar Dolar AS Terhadap Mata Uang Utama

Perubahan nilai tukar dolar terjadi di berbagai pasangan mata uang penting. Euro dan poundsterling menunjukkan penguatan yang cukup mencolok. Sementara itu, dolar Kanada dan krona Swedia juga ikut bergerak seiring pergeseran sentimen investor.

1. Euro Naik Tajam Lawan Dolar

Euro menguat dari USD1,1578 menjadi USD1,1644. Lonjakan ini menunjukkan bahwa investor mulai memindahkan posisi mereka ke zona aman. Uni Eropa, meskipun juga rentan terhadap goncangan ekonomi global, tetap dianggap lebih stabil dibandingkan AS dalam kondisi ketidakpastian geopolitik.

2. Poundsterling Ikut Menguat

Sterling juga menunjukkan performa positif, naik dari USD1,3388 ke USD1,346. Ini menjadi indikator bahwa investor global sedang menghindari aset berisiko tinggi, termasuk dolar AS, yang terkena imbas langsung dari ketegangan Timur Tengah.

3. Yen Jepang dan Franc Swiss Turun Drastis

Dolar AS terdepresiasi terhadap yen Jepang dari 158,33 menjadi 157,63. Sementara itu, franc Swiss juga mengalami penurunan dari 0,7799 ke 0,777. Kedua mata uang ini biasanya dijadikan tempat perlindungan ketika pasar tidak menentu. Namun kali ini, euro dan pound justru yang lebih diminati.

4. Dolar Kanada dan Krona Swedia Melemah

Dolar Kanada turun dari 1,3591 ke 1,357, sedangkan krona Swedia juga mengalami penurunan dari 9,21 ke 9,1371. Ini menunjukkan bahwa mata uang-mata uang komoditas juga ikut terpengaruh oleh volatilitas harga energi.

Dampak Jangka Panjang terhadap Inflasi

Salah satu kekhawatiran utama dari para analis adalah dampak jangka panjang dari lonjakan harga minyak terhadap laju inflasi. Jika harga energi tetap tinggi dalam jangka waktu lama, maka ekspektasi inflasi bisa bergeser secara permanen. Hal ini bisa memaksa bank sentral untuk mengambil langkah-langkah agresif, termasuk menaikkan suku bunga.

Baca Juga:  Indeks Saham Wall Street Terpuruk Akibat Lonjakan Biaya Energi Global

John Belton, manajer portofolio di Gabelli Growth Fund, menyampaikan bahwa narasi disinflasi yang telah berlangsung selama belasan bulan terakhir kini mulai dipertanyakan. “Yang benar-benar saya fokuskan dalam jangka panjang adalah, sejauh mana harga minyak tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, apakah itu mulai memengaruhi ekspektasi inflasi,” ujar Belton.

Perbandingan Nilai Tukar Dolar AS Sebelum dan Sesudah Volatilitas

Berikut adalah ringkasan pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap beberapa mata uang utama:

Mata Uang Sebelum Volatilitas Setelah Volatilitas Perubahan (%)
Euro USD1,1578 USD1,1644 +0,57%
Poundsterling USD1,3388 USD1,346 +0,54%
Yen Jepang 158,33 157,63 -0,44%
Franc Swiss 0,7799 0,777 -0,37%
Dolar Kanada 1,3591 1,357 -0,15%
Krona Swedia 9,21 9,1371 -0,79%

Catatan: Data bersifat estimasi berdasarkan laporan pasar tanggal 11 Maret 2026.

Kesimpulan

Pelemahan dolar AS tidak datang begitu saja. Ia adalah hasil dari kombinasi antara ketegangan geopolitik, volatilitas harga minyak, dan perubahan ekspektasi makroekonomi. Investor kini harus lebih waspada, karena situasi seperti ini bisa berlangsung dalam jangka pendek maupun menengah. Sentimen pasar masih rapuh, dan setiap perkembangan baru dari kawasan Timur Tengah bisa memicu reaksi besar.

Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat referensial dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika pasar global serta kebijakan moneter negara-negara besar.

Erna Agnesa
Reporter at Desa Pengkol

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.