Beranda » Ekonomi Bisnis » Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Program Pelatihan yang Terus Dikembangkan Untuk Meningkatkan Daya Saing Nasional

Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Program Pelatihan yang Terus Dikembangkan Untuk Meningkatkan Daya Saing Nasional

Ilustrasi. Foto: Medcom.id.

Produktivitas sumber daya manusia kini menjadi salah satu faktor penentu utama dalam memperkuat daya saing bangsa. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Indonesia mulai mengambil langkah konkret melalui program Coaching for Productivity yang digagas oleh Vanaya Institute bersama Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK). Inisiatif ini merupakan bagian dari gerakan strategis One Productivity Coach per Company, yang bertujuan membangun kapasitas internal perusahaan dalam meningkatkan kinerja secara berkelanjutan.

Penandatanganan kerja sama ini dihadiri langsung oleh Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Yassierli, serta sejumlah praktisi dan pelaku ekosistem SDM dari berbagai organisasi. Acara yang berlangsung di Kantor Pusat Bank Syariah Indonesia (BSI), Jakarta, pada 9 Maret 2026, mengusung tema “B300 Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) dan 101 Member Indonesia HR Ecosystem”. Kehadiran berbagai pihak menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong peningkatan produktivitas nasional.

Penguatan Produktivitas SDM, Langkah Menuju Daya Saing Bangsa

Peningkatan produktivitas bukan sekadar soal angka output yang tinggi. Ini adalah soal bagaimana sistem kerja, kualitas kepemimpinan, dan budaya organisasi saling mendukung untuk menciptakan kinerja yang berkelanjutan. Diskusi strategis yang dilakukan sebelumnya antara GNIK, Vanaya Institute, dan Kementerian Ketenagakerjaan RI menghasilkan kesepahaman bahwa peningkatan produktivitas harus dimulai dari dalam, yaitu dari kapasitas manusia itu sendiri.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa produktivitas harus dimaknai sebagai sebuah cara pandang, cara kerja, alat kerja, dan budaya kerja. Ini bukan sekadar proses teknis, tetapi juga filosofi yang menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap proses pembangunan ekonomi. Pandangan ini menjadi landasan penting dalam merancang program-program produktivitas yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.

1. Sinergi Lintas Sektor untuk Produktivitas Nasional

Ketua Umum GNIK, Yunus Triyonggo, menyatakan bahwa peningkatan produktivitas nasional membutuhkan sinergi dari berbagai pihak. Pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan komunitas profesional harus bergerak bersama untuk menciptakan ekosistem produktivitas yang kuat. Saat ini, produktivitas Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara Asia Tenggara, bahkan sekitar 50 tahun dari Jepang. Inisiatif One Company One Productivity Coach menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan ini.

2. Program Coaching for Productivity Digelar di 10 Kota

Untuk mendukung akselerasi Gerakan Produktivitas Nasional yang dicanangkan Kemnaker RI, program Coaching for Productivity akan digelar di minimal 10 kota besar di Indonesia. Tujuannya adalah mencetak sejumlah Productivity Coach yang terkualifikasi secara profesional dan siap mendampingi perusahaan dalam membangun budaya kerja yang produktif.

CEO Vanaya Institute, Lyra Puspa, menjelaskan bahwa pendekatan coaching memiliki peran penting dalam membentuk mindset dan etos kerja yang tinggi. Menurut riset dari Vanaya NeuroLab, coaching mampu meningkatkan kapasitas otak manusia, sehingga para manajer dan timnya memiliki pola pikir yang lebih inovatif dan efektif. Pendekatan ini melengkapi upaya peningkatan produktivitas dari sisi luar organisasi (outside-in) dengan pendekatan dari dalam (inside-out).

Perbandingan Produktivitas Indonesia dengan Negara Lain

Untuk memahami posisi Indonesia saat ini, berikut adalah perbandingan produktivitas tenaga kerja Indonesia dengan negara-negara Asia Tenggara dan Jepang:

Negara Tingkat Produktivitas (Relatif terhadap Indonesia = 100)
Indonesia 100
Malaysia 145
Thailand 138
Vietnam 120
Filipina 115
Singapura 320
Jepang 500

Catatan: Data bersifat estimasi relatif dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan ekonomi dan statistik nasional.

Mengapa Coaching Jadi Solusi Produktivitas?

3. Membangun Budaya Kerja Produktif dari Dalam

Pendekatan coaching tidak hanya sekadar pelatihan, tetapi lebih kepada pendampingan yang berkelanjutan. Ini membantu individu dan tim untuk mengembangkan growth mindset, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, serta membangun kebiasaan kerja yang efisien dan efektif. Dalam konteks organisasi, ini menjadi fondasi penting untuk menciptakan budaya kerja yang produktif dan adaptif terhadap perubahan.

4. Meningkatkan Kapasitas Otak Melalui Coaching

Riset dari Vanaya NeuroLab menunjukkan bahwa coaching mampu merangsang area otak yang terkait dengan kreativitas, pengambilan keputusan, dan regulasi emosi. Ini menjadikan individu lebih siap menghadapi tantangan kerja yang kompleks dan dinamis. Pendekatan ini sangat relevan dengan tuntutan dunia kerja modern yang mengedepankan inovasi dan adaptabilitas.

Peran Pemerintah dan Dunia Usaha

5. Mendorong Adopsi Program di Perusahaan Nasional

Program One Productivity Coach per Company dirancang untuk memastikan setiap perusahaan memiliki setidaknya satu pelatih produktivitas yang terlatih dan bersertifikasi. Ini akan membantu perusahaan dalam mengoptimalkan sumber daya manusia mereka secara berkelanjutan, baik dalam hal kinerja individu maupun kolaborasi tim.

6. Kolaborasi Membentuk Ekosistem Produktivitas Nasional

Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan menjadi kunci dalam membangun ekosistem produktivitas nasional yang kuat. Dengan adanya sinergi ini, diharapkan Indonesia bisa mengejar ketertinggalan produktivitas dan bersiap menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.

Kesimpulan

Produktivitas SDM bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Dalam era keterbukaan global, kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penentu apakah bangsa ini bisa bersaing atau justru tertinggal. Program Coaching for Productivity yang digagas oleh Vanaya Institute dan GNIK adalah salah satu langkah nyata dalam membangun fondasi produktivitas yang kuat dari dalam. Dengan pendekatan yang holistik dan kolaboratif, Indonesia punya peluang besar untuk menutup kesenjangan produktivitas dan memperkuat daya saing nasional.

Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan kebijakan dan statistik nasional.

Muhammad Rizal Veto
Reporter at Desa Pengkol

Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.