Beranda » Ekonomi Bisnis » Harga Bitcoin Terkoreksi Menuju 63 Ribu Dolar AS, Namun Proyeksi Kenaikan 7,5 Persen Terlihat Optimistis pada Juli 2026

Harga Bitcoin Terkoreksi Menuju 63 Ribu Dolar AS, Namun Proyeksi Kenaikan 7,5 Persen Terlihat Optimistis pada Juli 2026

Dunia kripto kembali bergejolak. Bitcoin, mata uang digital paling populer, sempat diperdagangkan sedikit di atas USD63 ribu pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Angka ini menandai penurunan sekitar 1,3 persen dalam 24 jam terakhir, setelah sebelumnya berhasil menutup bulan Juli dengan kenaikan yang cukup signifikan, sekitar 7,5 persen.

Kenaikan ini terjadi di tengah berbagai tantangan ekonomi global, termasuk peningkatan imbal hasil obligasi, kekhawatiran seputar suku bunga, serta pelemahan pada saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI). Pergerakan harga Bitcoin yang fluktuatif ini menjadi sorotan utama para investor dan analis pasar.

Volatilitas Pasar Bitcoin di Bulan Agustus 2026

Para analis memprediksi bahwa bulan Agustus akan menjadi periode yang penuh gejolak dan pergerakan harga Bitcoin akan cenderung terbatas. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor kunci yang tengah dinilai investor.

Salah satunya adalah prospek kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve, yang dapat memengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan. Selain itu, data ketenagakerjaan AS yang akan datang juga diperkirakan akan memberikan dampak signifikan, serta aliran dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) Bitcoin yang terus dipantau.

Mengutip laporan dari Investing pada Minggu, 2 Agustus 2026, harga Bitcoin tercatat turun 1,13 persen, diperdagangkan di angka USD63.104,1. Analis dari Bitfinex mengemukakan bahwa Bitcoin memasuki pertemuan Federal Reserve dengan leverage yang lebih rendah dibandingkan ekuitas, setelah posisi derivatif dibersihkan pasca-aksi jual di akhir Juni. Pada saat itu, Bitcoin sempat anjlok hingga di bawah USD58 ribu pada 1 Juli.

Likuidasi kripto harian rata-rata sejak saat itu tetap berada di bawah kisaran tipikal tahun 2026, yaitu antara USD400 juta hingga USD500 juta. Kondisi ini secara tidak langsung mengurangi jumlah penjualan paksa ketika selera risiko yang lebih luas melemah, memberikan sedikit ruang bernapas bagi pasar.

Tekanan Harga Bitcoin Akibat Insiden Keamanan

Di tengah pergerakan pasar yang dinamis, insiden keamanan kembali menjadi sorotan dan menciptakan tekanan baru pada harga Bitcoin. Peristiwa eksploitasi dompet perangkat keras Coldcard yang besar menjadi pemicu kekhawatiran.

Baca Juga:  Bank Jateng Perkuat Sinergi Global, Gelar Jamuan Bisnis Demi Tarik Investasi Asing Berkelanjutan

Galaxy Research melaporkan bahwa sebanyak 1.082,65 Bitcoin, dengan nilai sekitar USD70 juta, telah dicuri dari 1.196 dompet dalam rentang waktu 41 menit pada tanggal 30 Juli. Penyerang dilaporkan berhasil membuat ulang kunci pribadi secara offline setelah ditemukan adanya kesalahan firmware yang menghasilkan seed dompet yang mudah diprediksi.

Bitcoin yang dicuri ini masih berada di empat alamat, namun para analis memperingatkan bahwa pencurian serupa dapat terjadi lagi. Likuidasi Bitcoin hasil curian ini berpotensi menekan harga pasar lebih lanjut. Insiden ini juga kembali memicu kekhawatiran mengenai penyimpanan mandiri (self-custody).

Dompet perangkat keras dirancang untuk menyimpan kunci pribadi secara offline, namun pelanggaran Coldcard menunjukkan bahwa kelemahan dalam pembuatan seed dapat mengekspos dana tanpa penyerang perlu mengakses perangkat fisik. Hal ini menggarisbawahi pentingnya keamanan siber yang berlapis dan kehati-hatian dalam memilih platform penyimpanan aset digital.

Peran Permintaan Institusional dan Cadangan Tether

Meskipun dihadapkan pada tantangan, permintaan institusional tetap menjadi faktor kunci yang dapat memengaruhi pergerakan harga Bitcoin. Para analis berpendapat bahwa arus masuk ETF spot yang berkelanjutan berpotensi mendukung Bitcoin. Namun, sinyal positif tersebut belum sepenuhnya terlihat.

Beberapa faktor, seperti dolar yang lebih kuat, imbal hasil riil yang lebih tinggi, dan permintaan ETF yang masih lemah, dapat menciptakan lingkungan yang lebih sulit bagi Bitcoin. Di sisi lain, Tether, penerbit stablecoin USDT, menunjukkan komitmennya terhadap Bitcoin dengan meningkatkan cadangannya.

Pada kuartal kedua, Tether menambahkan 1.796 koin Bitcoin, sehingga total kepemilikannya mencapai 98.933 BTC. Perusahaan ini juga melaporkan laba operasional sebesar USD1,5 miliar, meskipun cadangan berlebihnya menurun separuh menjadi USD4,11 miliar. Pada akhir Juni, Tether memiliki aset senilai USD187,75 miliar dibandingkan dengan kewajiban sebesar USD183,64 miliar. Penerbitan USDT-nya meningkat menjadi USD184,6 miliar. Selain itu, perusahaan ini juga menambahkan 14 metrik ton emas ke cadangannya selama kuartal tersebut, menunjukkan diversifikasi aset yang strategis.

Baca Juga:  Peringkat AAA Mudahkan Indonesia Menerbitkan Surat Utang di Pasar Keuangan Tiongkok

Fluktuasi Harga Kripto Lainnya

Selain Bitcoin, pasar kripto secara lebih luas juga menunjukkan pergerakan yang beragam. Altcoin mencatat kenaikan dan penurunan di tengah perdagangan yang tipis pada Sabtu. Berikut adalah rangkuman pergerakan beberapa aset kripto utama:

Aset Kripto Perubahan Harga (24 Jam) Harga Terbaru
Bitcoin Turun 1,13% USD63.104,1
Ethereum Turun 1,14% USD1.868,85
XRP Turun 1,40% USD1.0621
Cardano Naik 0,99%
Solana Turun 0,83%
Dogecoin Stagnan

Disclaimer: Data harga di atas merupakan gambaran pada saat artikel ini ditulis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi pasar kripto yang sangat volatil.

Ethereum, kripto nomor dua dunia, tercatat turun 1,14 persen menjadi USD1.868,85. Sementara itu, XRP, kripto nomor tiga, juga mengalami penurunan sebesar 1,40 persen menjadi USD1.0621. Di sisi lain, Cardano menunjukkan kenaikan tipis sebesar 0,99 persen, sedangkan Solana turun 0,83 persen. Untuk token meme seperti Dogecoin, pergerakannya cenderung stagnan sepanjang hari.

Pergerakan harga yang beragam ini menunjukkan bahwa pasar kripto masih sangat sensitif terhadap berbagai sentimen, baik dari sisi makroekonomi maupun isu spesifik yang terjadi di ekosistem kripto itu sendiri. Investor diharapkan selalu melakukan riset mendalam dan mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan investasi.

Erna Agnesa
Reporter at Desa Pengkol

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.