Permata Bank (BNLI) tetap berpegang teguh pada fokus bisnisnya di tahun 2026, meski tekanan dari kondisi ekonomi global terus terasa. Ketidakpastian geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi di beberapa negara maju, menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Namun, bank yang telah lama membangun portofolionya di segmen korporasi, komersial, dan konsumer ini tampaknya tidak terlalu panik.
Langkah strategis tetap dijalankan, tapi tanpa mengubah arah besar. Artinya, meski situasi eksternal penuh gejolak, Permata Bank tidak berencana mengubah struktur bisnisnya secara signifikan. Fokus tetap pada penguatan portofolio kredit yang sehat dan pengelolaan risiko yang ketat.
Fokus Bisnis Tetap di Tiga Segmen Utama
Permata Bank memilih untuk tidak mengubah fokus bisnisnya di tahun ini. Tiga segmen utama—korporasi, komersial, dan konsumer—masih menjadi tulang punggung pertumbuhan bank. Strategi ini diambil sebagai bentuk konsistensi terhadap model bisnis yang sudah teruji.
Namun, bukan berarti bank ini abai terhadap dinamika eksternal. Rudy Basyir Ahmad, Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank, menyatakan bahwa bank terus memantau perkembangan makroekonomi. Jika diperlukan, penyesuaian akan dilakukan secara selektif, terutama di segmen yang lebih sensitif terhadap tekanan ekonomi.
1. Segmen Korporasi Tetap Jadi Tulang Punggung
Segmen korporasi menjadi andalan utama dalam penyaluran kredit Permata Bank. Pada akhir 2025, penyaluran kredit di segmen ini tumbuh 11,2% year-on-year, mencatatkan nilai Rp99,6 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa permintaan kredit dari perusahaan masih cukup kuat, meski berada di tengah ketidakpastian global.
2. Segmen Komersial Terus Dipantau
Segmen komersial juga tetap menjadi perhatian. Meski tidak tumbuh secepat korporasi, segmen ini memberikan kontribusi yang stabil. Bank tetap selektif dalam menyalurkan kredit kepada pelaku usaha menengah, mengingat risiko yang masih tinggi di tengah volatilitas ekonomi.
3. Segmen Konsumer Lebih Prudent
Di sisi konsumer, Permata Bank mengambil pendekatan yang lebih hati-hati. Tantangan di segmen ini mulai terlihat sejak tahun lalu, terutama karena tekanan daya beli masyarakat dan kenaikan suku bunga. Oleh karena itu, bank lebih selektif dalam menyalurkan kredit konsumer.
Penyaluran Kredit dan Kualitas Aset
Pertumbuhan penyaluran kredit Permata Bank secara keseluruhan mencatatkan kenaikan 5,5% year-on-year pada 2025, mencapai Rp163,3 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa bank tetap bisa menjaga momentum pertumbuhan meski dalam kondisi yang tidak pasti.
Rasio Kredit Bermasalah Tetap Terjaga
Kualitas kredit juga tetap terjaga. Rasio Non-Performing Loan (NPL) Gross berada di level 2,1%, sedangkan Loan at Risk (LAR) turun menjadi 6,3%. Ini menunjukkan bahwa manajemen risiko yang diterapkan cukup efektif dalam menjaga portofolio kredit tetap sehat.
| Indikator | 2024 | 2025 |
|---|---|---|
| Total Penyaluran Kredit | Rp154,8 triliun | Rp163,3 triliun |
| Pertumbuhan YoY | 4,8% | 5,5% |
| NPL Gross | 2,3% | 2,1% |
| LAR | 6,7% | 6,3% |
| Segmen Korporasi | Rp89,6 triliun | Rp99,6 triliun |
| Segmen Konsumer | Rp42,1 triliun | Rp41,7 triliun |
Strategi Manajemen Risiko di Tengah Ketidakpastian
Permata Bank tidak mengambil risiko secara sembarangan. Bank ini dikenal memiliki pendekatan yang prudent dalam menyalurkan kredit. Apalagi di tengah situasi ekonomi global yang penuh tantangan, bank harus bisa menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kehati-hatian.
1. Penguatan Risk Management
Salah satu langkah utama adalah penguatan sistem manajemen risiko. Bank terus memperbaiki proses evaluasi calon debitur, terutama di segmen konsumer dan komersial. Ini dilakukan untuk meminimalkan potensi kredit bermasalah di masa depan.
2. Selektivitas dalam Penyaluran Kredit
Selektivitas menjadi kunci. Bank tidak lagi menyalurkan kredit secara agresif, tapi lebih fokus pada kualitas. Ini terutama berlaku untuk segmen konsumer yang lebih sensitif terhadap tekanan ekonomi.
3. Diversifikasi Portofolio
Meski fokus tetap di tiga segmen utama, Permata Bank juga terus berupaya mendiversifikasi portofolio kreditnya. Ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada satu segmen tertentu dan memperkuat ketahanan bisnis secara keseluruhan.
Respons terhadap Geopolitik dan Tekanan Ekonomi Global
Geopolitik, khususnya ketegangan di Timur Tengah, menjadi salah satu faktor yang terus dipantau oleh Permata Bank. Wilayah tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan stabilitas harga energi dan rantai pasok global.
1. Evaluasi Terhadap Eksposur di Wilayah Berisiko
Bank secara berkala mengevaluasi eksposur terhadap sektor-sektor yang rentan terhadap gejolak geopolitik. Ini mencakup sektor energi, perdagangan internasional, dan manufaktur.
2. Penguatan Dana Pihak Ketiga (DPK)
Permata Bank juga terus memperkuat dana pihak ketiga sebagai sumber dana utama. Dengan DPK yang stabil, bank bisa lebih leluasa dalam mengatur likuiditas dan menghadapi tekanan dari luar.
3. Adaptasi terhadap Kebijakan Moneter
Bank Indonesia yang menyesuaikan kebijakan moneter dengan kondisi global juga menjadi perhatian. Permata Bank harus bisa cepat beradaptasi, terutama dalam hal penetapan suku bunga kredit dan strategi pricing.
Kinerja Keuangan dan Proyeksi 2026
Meski menghadapi tantangan, kinerja keuangan Permata Bank tetap menunjukkan tanda-tanda positif. Laba bersih bank pada 2025 naik tipis dibanding tahun sebelumnya, berkat efisiensi biaya dan peningkatan pendapatan non-bunga.
1. Efisiensi Biaya Operasional
Bank terus melakukan efisiensi di berbagai lini. Ini termasuk digitalisasi layanan dan pengurangan biaya tidak produktif. Tujuannya, agar margin tetap terjaga meski pertumbuhan kredit melambat.
2. Peningkatan Pendapatan Non-Bunga
Pendapatan non-bunga, seperti dari layanan digital dan transaksi keuangan, terus meningkat. Ini menjadi penyangga saat pertumbuhan kredit melambat.
3. Fokus pada Digital Banking
Digitalisasi tetap menjadi prioritas. Permata Bank terus mengembangkan platform digital untuk meningkatkan user experience dan efisiensi operasional.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi makro, kebijakan moneter, serta kondisi pasar keuangan secara global dan domestik. Pembaca disarankan untuk merujuk pada sumber resmi atau laporan keuangan terbaru dari Permata Bank untuk informasi lebih akurat dan terkini.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.
