Gedung BCA menjadi sorotan setelah Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Lianawaty Suwono, dikabarkan melakukan pembelian saham sebanyak 300 ribu unit. Transaksi ini tercatat dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan menunjukkan kepercayaan internal terhadap kinerja emiten berkode saham BBCA.
Pembelian saham tersebut dilakukan pada akhir pekan sebelum Idulfitri 2026, dengan harga Rp6.750 per saham. Lianawaty Suwono menyatakan bahwa transaksi ini dilakukan untuk tujuan investasi jangka panjang. Sebelum pembelian, portofolio sahamnya di BCA mencapai 3.140.417 unit. Setelah transaksi, total kepemilikannya menjadi 3.440.417 unit saham.
Kepemilikan Saham dan Hak Suara
Lianawaty Suwono tidak hanya aktif dalam pengelolaan operasional BCA, tetapi juga terus memperkuat posisinya sebagai pemegang saham. Meski jumlah sahamnya bertambah signifikan, hak suaranya tetap tercatat di level 0,002 persen baik sebelum maupun sesudah transaksi.
Transparansi kepemilikan saham menjadi bagian penting dalam tata kelola perusahaan publik. Dalam hal ini, Lianawaty Suwono menjelaskan bahwa pembelian sahamnya telah sesuai dengan ketentuan Pasal 3 Ayat 3 dan Pasal 2 Ayat 1 POJK 4/2024 tentang Laporan Kepemilikan Saham.
Rencana Dividen Interim BCA
Langkah Lianawaty Suwono memborong saham BCA terlihat sejalan dengan rencana emiten ini dalam memberikan imbal hasil kepada pemegang saham. BCA berencana membagikan dividen interim sebanyak tiga kali dalam tahun 2026.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyatakan bahwa pembagian dividen interim ini akan dilakukan setiap kuartal. Langkah ini dianggap sebagai terobosan baru yang bertujuan meningkatkan cashflow para pemegang saham, terutama ritel.
“Pembagian dividen interim setiap kuartal ini diharapkan dapat menambah cashflow bagi pemegang saham yang selama ini senantiasa bersama kami,” ujar Hendra.
1. Pembelian Saham oleh Lianawaty Suwono
Transaksi pembelian saham dilakukan pada akhir pekan sebelum Idulfitri 2026. Dalam satu transaksi, Lianawaty Suwono membeli 300.000 saham BBCA di harga Rp6.750 per unit. Total nilai transaksi mencapai Rp2,025 miliar.
Sebelumnya, portofolio saham Lianawaty Suwono di BCA tercatat sebanyak 3.140.417 unit. Setelah transaksi, total saham yang dimilikinya menjadi 3.440.417 unit.
2. Tujuan Investasi Saham
Lianawaty Suwono menyatakan bahwa pembelian saham ini dilakukan untuk tujuan investasi jangka panjang. Ia menilai bahwa BCA masih memiliki potensi pertumbuhan yang kuat di tengah dinamika industri perbankan nasional.
Selain itu, rencana pembagian dividen interim yang akan dilakukan tiga kali dalam setahun menjadi salah satu pertimbangan penting dalam keputusan investasi ini.
3. Kepatuhan terhadap Regulasi OJK
Transaksi saham oleh Lianawaty Suwono dilakukan sesuai dengan ketentuan Pasal 3 Ayat 3 dan Pasal 2 Ayat 1 POJK 4/2024. Regulasi ini mengatur kewajiban pelaporan kepemilikan saham oleh pihak-pihak terkait dalam perusahaan terbuka.
Dengan demikian, transparansi dan akuntabilitas tetap terjaga dalam setiap transaksi yang dilakukan oleh jajaran direksi BCA.
Perbandingan Kepemilikan Saham Lianawaty Suwono
| Parameter | Sebelum Transaksi | Setelah Transaksi |
|---|---|---|
| Jumlah Saham | 3.140.417 unit | 3.440.417 unit |
| Hak Suara | 0,002% | 0,002% |
| Harga per Saham | Rp6.750 | Rp6.750 |
| Tujuan Transaksi | Investasi | Investasi |
1. Rencana Dividen Interim
BCA berencana membagikan dividen interim sebanyak tiga kali dalam tahun 2026. Pembagian ini akan dilakukan setiap kuartal dan menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memberikan nilai tambah kepada pemegang saham.
2. Tujuan Pembagian Dividen Interim
Langkah pembagian dividen interim bertujuan untuk meningkatkan cashflow pemegang saham, terutama ritel. Selain itu, hal ini juga diharapkan dapat meningkatkan daya tarik saham BCA di pasar modal.
3. Persetujuan Dewan Komisaris
Rencana pembagian dividen interim telah mendapat persetujuan dari dewan komisaris BCA. Hendra Lembong menegaskan bahwa rencana ini disesuaikan dengan kondisi keuangan perusahaan yang saat ini dalam posisi stabil.
Penilaian terhadap Saham BCA
Saham BCA (BBCA) tetap menjadi salah satu saham blue-chip pilihan investor di pasar modal Indonesia. Dengan fundamental yang kuat dan kinerja operasional yang stabil, BCA terus menjadi sorotan investor lokal maupun asing.
Langkah Lianawaty Suwono memborong saham BBCA menunjukkan keyakinan internal terhadap prospek perusahaan ke depannya. Apalagi dengan rencana pembagian dividen interim yang akan memberikan imbal hasil secara berkala.
Potensi Saham BCA ke Depan
BCA memiliki sejumlah kekuatan yang mendukung performa sahamnya di pasar modal. Diantaranya adalah jaringan cabang yang luas, basis nasabah yang loyal, serta kinerja keuangan yang konsisten.
Dengan rencana pembagian dividen interim dan langkah-langkah strategis lainnya, BCA berpotensi terus menjadi pilihan utama investor jangka panjang.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersumber dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia serta pernyataan resmi manajemen BCA. Nilai saham, harga pasar, dan rencana korporasi dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Pembaca disarankan untuk melakukan verifikasi mandiri sebelum membuat keputusan investasi.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.
