Beranda » Ekonomi Bisnis » Emas Melonjak Mencetak Rekor Tertinggi Dua Bulan, Sentuh Angka 4.389 Dolar AS per Ons

Emas Melonjak Mencetak Rekor Tertinggi Dua Bulan, Sentuh Angka 4.389 Dolar AS per Ons

Pergerakan harga emas dunia kembali menjadi sorotan utama pasar keuangan global. Logam mulia ini baru saja mencetak rekor kenaikan signifikan, menembus level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari ekspektasi, menggoyahkan proyeksi kebijakan moneter Federal Reserve.

Meskipun demikian, lonjakan harga minyak mentah di tengah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut membayangi potensi kenaikan lebih lanjut. Pasar kini menantikan data inflasi AS sebagai petunjuk krusial berikutnya untuk mengukur arah kebijakan The Fed.

Emas Menguat: Respons Pasar Terhadap Data Ketenagakerjaan AS

Harga emas spot mengalami kenaikan 1,1 persen, mencapai USD4.389,17 per ons, sementara emas berjangka juga naik 1,1 persen menjadi USD4.448,55 per ons. Angka ini merupakan kelanjutan dari performa impresif pekan sebelumnya, di mana harga emas spot melonjak 7,5 persen dan emas berjangka naik 7,1 persen. Kenaikan ini sebagian besar didorong oleh data ketenagakerjaan AS yang mengejutkan.

Data menunjukkan penurunan bulanan pertama lapangan kerja nonpertanian AS sejak Februari, terutama akibat berkurangnya pekerjaan di sektor pendidikan pemerintah daerah. Selain itu, data payroll untuk Mei dan Juni direvisi turun secara kumulatif sebesar 103 ribu pekerjaan. Laporan ini menciptakan kerumitan bagi The Fed, karena di satu sisi pasar tenaga kerja masih relatif kuat, namun di sisi lain, risiko inflasi meningkat akibat volatilitas harga minyak dan konflik Iran.

Ekspektasi Suku Bunga dan Dampaknya pada Emas

Laporan ketenagakerjaan yang melemah telah mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Beberapa pembuat kebijakan awalnya cenderung mendukung kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan Juli. Namun, data terbaru ini membuat pelaku pasar menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Suku bunga yang tinggi secara historis cenderung menekan aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas. Kondisi ini juga dapat memperkuat dolar AS, yang pada gilirannya membuat harga emas lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Oleh karena itu, penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi angin segar bagi harga emas.

Indikator Inflasi dan Proyeksi Harga Emas

Perhatian pasar kini tertuju pada sejumlah indikator inflasi utama yang akan dirilis pekan ini. Kalender ekonomi AS akan menyoroti data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) Juli, yang masing-masing akan dirilis pada Rabu dan Kamis. Data ini akan disusul oleh laporan penjualan ritel Juli pada Jumat.

Baca Juga:  Kebijakan Baru Pemerintah Menurunkan Harga Gas Alam Cair untuk Sektor Industri Nasional

Data inflasi ini akan menjadi penentu penting bagi arah kebijakan The Fed selanjutnya. Jika inflasi menunjukkan tanda-tanda mereda, tekanan untuk menaikkan suku bunga akan berkurang, berpotensi mendukung kenaikan harga emas. Sebaliknya, inflasi yang tinggi dapat memicu kembali ekspektasi kenaikan suku bunga, menekan harga emas.

UBS, salah satu lembaga keuangan global, mempertahankan target harga emas sebesar USD5.000 per ons. Target ini didukung oleh tiga faktor struktural utama yang diyakini akan mendorong kenaikan harga emas hingga 2027:

  • Penurunan Imbal Hasil Riil: Seiring dengan pelonggaran kebijakan The Fed, imbal hasil riil diharapkan akan menurun, membuat emas menjadi investasi yang lebih menarik.
  • Pelemahan Dolar AS: Dolar AS diperkirakan akan melemah akibat defisit fiskal dan eksternal, yang secara historis berkorelasi positif dengan kenaikan harga emas.
  • Pembelian Emas oleh Bank Sentral: Pembelian emas yang konsisten oleh bank sentral global dinilai menjadi penopang kuat bagi harga logam mulia ini.

Disclaimer: Target harga dan proyeksi ini bersifat perkiraan dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika pasar dan kondisi ekonomi global.

Gejolak Minyak dan Ketegangan Geopolitik

Di sisi lain, harga minyak mentah mengalami kenaikan signifikan, hampir lima persen, setelah Iran menolak kemungkinan pembicaraan langsung dengan AS dan menetapkan persyaratan untuk pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Kekhawatiran terhadap pasokan minyak di kawasan ini semakin meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang infrastruktur energi Arab Saudi. Situasi ini mendorong pelaku pasar untuk beralih ke dolar AS sebagai aset aman.

Ketidakpastian di Selat Hormuz

Harga minyak sempat turun pada pekan sebelumnya setelah sejumlah pejabat AS, termasuk Presiden Donald Trump, menyatakan adanya pembicaraan dengan Iran. Namun, penurunan ini mereda menjelang akhir pekan setelah Teheran berulang kali membantah klaim Washington mengenai negosiasi tersebut. Laporan mengenai kerangka pengelolaan Selat Hormuz juga meningkatkan ketidakpastian, terutama karena disebut akan melarang kapal AS, Israel, dan kapal lain yang dianggap bermusuhan melintasi jalur strategis tersebut.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa sebuah komisi parlemen telah menyetujui kerangka kerja tersebut, termasuk ketentuan mengenai larangan bagi kapal-kapal tertentu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, pada Senin menyatakan bahwa Iran dan Oman belum merampungkan pernyataan bersama mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Ia menambahkan bahwa rencana tersebut akan mencakup mekanisme pemantauan lalu lintas kapal yang mensyaratkan kompensasi.

Baca Juga:  Jadwal Pencairan Tunjangan Profesi Guru 2026, Prosedur Verifikasi, dan Strategi Antisipasi Kendala Administratif

Tuntutan Kompensasi dan Syarat Iran

Iran juga menutup kemungkinan pembicaraan langsung dengan AS untuk saat ini, dengan alasan dugaan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai pada Juni. Teheran kembali menyampaikan sejumlah syarat untuk pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh:

  1. Penghentian blokade angkatan laut AS.
  2. Pencabutan sanksi ekonomi.
  3. Pemberian ganti rugi atas kerusakan akibat perang.

Pada Senin, Trump menyatakan bahwa Iran meminta kompensasi atas kerusakan yang terjadi sejak dimulainya serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Trump menambahkan bahwa AS juga akan menuntut kompensasi dari Iran dan meminta perwakilannya memasukkan tuntutan tersebut dalam setiap negosiasi mendatang.

Ketegangan geopolitik yang terus berlanjut ini menciptakan ketidakpastian di pasar energi, yang pada gilirannya dapat memengaruhi sentimen investor terhadap aset-aset lain, termasuk emas. Volatilitas harga minyak seringkali menjadi pendorong bagi investor untuk mencari aset yang lebih aman, seperti emas, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global.

Outlook Pasar Emas dan Minyak

Pergerakan harga emas dan minyak dalam beberapa waktu ke depan akan sangat ditentukan oleh perkembangan data inflasi AS serta dinamika geopolitik di Timur Tengah. Investor akan terus memantau setiap rilis data ekonomi dan pernyataan dari para pejabat bank sentral, serta perkembangan situasi antara AS dan Iran, untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.

Disclaimer: Informasi yang disajikan dalam artikel ini bersifat umum dan tidak dimaksudkan sebagai saran investasi. Keputusan investasi harus didasarkan pada analisis pribadi dan konsultasi dengan profesional keuangan.

Erna Agnesa
Reporter at Desa Pengkol

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.