Perubahan signifikan terjadi dalam proyeksi harga gas alam Eropa. Goldman Sachs baru-baru ini merevisi naik estimasi jangka pendek, menyoroti kekhawatiran terhadap pemulihan ekspor gas alam cair (LNG) dari kawasan Teluk Persia yang melambat. Hal ini tentu menjadi perhatian serius bagi banyak pihak, mengingat ketergantungan Eropa pada pasokan energi.
Revisi ini bukan tanpa alasan. Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur maritim krusial, masih berlanjut di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Situasi geopolitik yang memanas ini secara langsung berdampak pada rantai pasok global, khususnya untuk komoditas energi vital seperti LNG.
Mengapa Selat Hormuz Begitu Penting?
Selat Hormuz memiliki peran strategis yang tak tergantikan dalam peta energi global. Jalur perairan sempit ini menjadi kunci bagi banyak negara, baik sebagai produsen maupun konsumen energi.
Analis Goldman Sachs, Samantha Dart, menyoroti bahwa pemulihan ekspor LNG dari Teluk Persia diperkirakan baru akan kembali normal pada Oktober 2026. Ini merupakan kemunduran signifikan dari proyeksi sebelumnya yang menargetkan Juli. Penundaan ini menggarisbawahi betapa rentannya pasokan energi global terhadap gejolak di satu titik geografis yang krusial.
Selat Hormuz menangani sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia dan 20 persen ekspor LNG global. Angka-angka ini menunjukkan
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.
