Beranda » Ekonomi Bisnis » Penguatan Dolar AS Berlanjut, Dipicu Kinerja Positif Sektor Ketenagakerjaan Amerika Serikat

Penguatan Dolar AS Berlanjut, Dipicu Kinerja Positif Sektor Ketenagakerjaan Amerika Serikat

Dolar Amerika Serikat menunjukkan kekuatannya kembali. Mata uang ini bergerak naik tipis pada Rabu, 1 Juli 2026, didukung oleh data ekonomi yang terus memupuk ekspektasi suku bunga tinggi dari Federal Reserve (The Fed). Para pelaku pasar juga tampak menyoroti sinyal-sinyal yang agak beragam dari pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam forum Bank Sentral Eropa (ECB) di Portugal.

Mengutip laporan dari Investing pada Kamis, 2 Juli 2026, indeks dolar AS, yang mencerminkan pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, mengalami kenaikan sebesar 0,2 persen, mencapai level 101,39. Kenaikan ini melanjutkan tren positif, di mana pada sesi sebelumnya, indeks tersebut berhasil mencatat kenaikan kuartalan keempat berturut-turut, dengan penguatan signifikan sebesar 1,2 persen sepanjang kuartal kedua.

Dolar AS Menguat: Apa yang Mendorongnya?

Pergerakan dolar AS selalu menjadi sorotan utama di pasar keuangan global. Banyak faktor yang bisa memengaruhi nilainya, mulai dari kebijakan moneter hingga data ekonomi makro. Saat ini, ada beberapa pendorong utama yang membuat dolar kembali perkasa.

Prospek Suku Bunga dan Kekuatan Pasar Tenaga Kerja

Arah kebijakan moneter The Fed masih menjadi fokus utama di tengah serangkaian rilis data ketenagakerjaan AS. Data-data ini memberikan gambaran penting tentang kesehatan ekonomi negara tersebut.

Laporan dari Challenger, Gray & Christmas menunjukkan adanya penurunan jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) di AS. Angka PHK tercatat sebanyak 45.849 pada Juni, turun drastis 53 persen dibandingkan dengan 97.006 PHK pada Mei. Ini menjadi kabar baik, karena jumlah PHK bulanan tersebut merupakan yang terendah sejak Desember 2025.

Sementara itu, laporan ADP mengindikasikan sektor swasta AS berhasil menambah 98 ribu lapangan kerja pada Juni. Meskipun angka ini masih di bawah ekspektasi pasar yang memprediksi 118 ribu, serta realisasi Mei sebanyak 122 ribu, tetap menunjukkan adanya pertumbuhan lapangan kerja.

Kedua data tersebut muncul setelah laporan lowongan pekerjaan AS mencapai level tertinggi dalam dua tahun pada Mei. Sekarang, perhatian pelaku pasar tertuju pada laporan nonfarm payrolls (NFP) Juni, yang dianggap sebagai indikator kunci kondisi pasar tenaga kerja AS secara keseluruhan.

Pada pertemuan bulan lalu, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) kembali menegaskan bahwa prioritas utamanya tetap pada pengendalian inflasi. Ini karena pasar tenaga kerja secara umum masih dinilai kuat, memberikan The Fed ruang untuk tetap bersikap hawkish.

Di sisi lain, data dari Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan bahwa indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur sedikit menurun. Angka PMI turun menjadi 53,3 pada Juni dari 54 pada Mei, dan berada di bawah proyeksi konsensus sebesar 53,8. Ini menunjukkan adanya sedikit perlambatan di sektor manufaktur.

Baca Juga:  Dolar Mengalami Pelema

Inflasi Mereda dan Komentar The Fed

Risiko inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Ini menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan oleh The Fed.

Kevin Warsh, dalam pidato publik pertamanya sejak rapat kebijakan bulan lalu, kembali menolak memberikan panduan eksplisit mengenai arah suku bunga di masa depan. Ia hanya menyatakan bahwa FOMC siap menghadapi berbagai perkembangan saat pertemuan berikutnya digelar pada Juli.

Namun, Warsh juga menegaskan bahwa risiko inflasi mulai menurun. Penurunan harga minyak, setelah tercapainya perjanjian damai sementara antara AS dan Iran, turut meredakan kekhawatiran terhadap tekanan harga energi. Ini adalah sinyal positif bagi prospek inflasi.

Meskipun demikian, pelaku pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga tahun ini masih terbuka. Hal ini tercermin dalam CME FedWatch, sebuah alat yang memantau probabilitas perubahan suku bunga The Fed. Kondisi ini turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang pada gilirannya menopang penguatan dolar.

Dinamika Mata Uang Global: Euro dan Yen di Bawah Tekanan

Pergerakan dolar AS tidak bisa dilepaskan dari kondisi mata uang utama lainnya. Euro dan yen Jepang saat ini sedang menghadapi tekanan yang cukup signifikan.

Euro Melemah Akibat Inflasi Zona Euro

Euro mengalami pelemahan sebesar 0,4 persen, mencapai USD1,1380, setelah inflasi Zona Euro melambat lebih cepat dari perkiraan. Ini adalah berita penting bagi kebijakan moneter di kawasan tersebut.

Data terbaru menunjukkan bahwa inflasi konsumen (CPI) Zona Euro turun menjadi 2,8 persen pada Juni dari 3,2 persen pada Mei. Angka ini lebih rendah dari proyeksi pasar sebesar 3,0 persen. Bahkan, inflasi inti juga tercatat lebih rendah dari ekspektasi.

Kondisi ini semakin memperkuat peluang bahwa ECB mungkin akan melonggarkan kebijakan moneternya di masa mendatang. Perbedaan arah kebijakan antara ECB yang cenderung dovish (longgar) dan The Fed yang masih hawkish (ketat) semakin menekan nilai tukar euro terhadap dolar AS.

Baca Juga:  OJK Pastikan Revisi Aturan RBB Tetap Memberi Keleluasaan Bank dalam Menyalurkan Kredit Mulai Triwulan III 2026

Presiden ECB, Christine Lagarde, kembali membela keputusan bank sentral untuk menaikkan suku bunga pada bulan lalu. "Kami melakukannya karena kami memiliki kondisi kebijakan moneter yang tepat untuk melakukannya," ujar Lagarde, menegaskan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada analisis yang matang.

Yen Jepang Terus Berjuang

Sementara itu, yen Jepang masih bertahan di kisaran level terlemahnya terhadap dolar AS sejak 1986. Pasangan USD/JPY terakhir berada di level 162,52. Ini menunjukkan tekanan yang berkelanjutan pada mata uang Jepang.

Yen terus berada di bawah tekanan, meskipun survei Tankan Bank of Japan menunjukkan sentimen produsen besar membaik dan PMI manufaktur Jibun Bank tetap berada di zona ekspansi. Data ekonomi yang positif ini tampaknya belum cukup untuk mengangkat nilai yen secara signifikan.

Kondisi ini membuat pelaku pasar terus mewaspadai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing. Intervensi semacam itu pernah dilakukan di masa lalu untuk menstabilkan nilai yen.

Apa Selanjutnya?

Investor kini mengalihkan perhatian pada laporan nonfarm payrolls AS yang akan datang. Laporan ini akan memberikan gambaran lebih jelas tentang kondisi pasar tenaga kerja AS dan bisa menjadi katalis signifikan bagi pergerakan dolar.

Selain itu, perkembangan terbaru terkait Selat Hormuz juga diperkirakan akan menjadi katalis utama bagi pergerakan mata uang global. Geopolitik seringkali memiliki dampak besar pada pasar finansial, dan Selat Hormuz adalah jalur pelayaran minyak yang sangat vital.

Disclaimer: Data dan informasi yang disajikan dalam artikel ini bersifat indikatif dan dapat berubah sewaktu-waktu. Pergerakan pasar keuangan sangat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi, politik, dan sentimen pasar. Keputusan investasi harus didasarkan pada analisis yang komprehensif dan konsultasi dengan profesional keuangan.

Erna Agnesa
Reporter at Desa Pengkol

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.