Beranda » Bantuan Sosial » Mengenal Doom Spending yang Membahayakan Finansial Generasi Milenial dan Gen Z serta Solusi Mengatasinya

Mengenal Doom Spending yang Membahayakan Finansial Generasi Milenial dan Gen Z serta Solusi Mengatasinya

Ilustrasi belanja impulsif yang tak terkendali kini jadi sorotan, terutama di kalangan generasi muda. Fenomena ini dikenal sebagai doom spending—kebiasaan menghabiskan uang tanpa pertimbangan matang, hanya demi kepuasan sesaat. Di tengah tekanan ekonomi dan pengaruh media sosial yang begitu kuat, banyak dari Milenial dan Gen Z terjerat dalam pola konsumsi yang berujung pada masalah finansial jangka panjang.

Doom spending bukan sekadar istilah modis. Ini adalah realitas yang bisa mengganggu kesehatan keuangan seseorang. Orang-orang yang terjebak dalam kebiasaan ini seringkali merasa bahwa menabung tidak lagi penting, dan lebih memilih menikmati hari ini tanpa memikirkan masa depan. Padahal, dampaknya bisa sangat luas, mulai dari stres finansial hingga kecemasan yang berkepanjangan.

Apa Itu Doom Spending?

Doom spending adalah perilaku belanja impulsif yang dilakukan sebagai respons emosional terhadap stres atau ketidakpastian. Istilah ini mulai populer di media sosial dan menjadi pembahasan serius di kalangan ekonom dan psikolog. Banyak yang menggunakan belanja sebagai cara untuk “mengobati” perasaan cemas atau tidak aman, terutama di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu.

Menurut survei dari Psychology Today, 43 persen Milenial dan 35 persen Gen Z mengaku sering melakukan doom spending. Angka ini menunjukkan bahwa fenomena ini bukanlah kasus minor. Mayoritas dari mereka merasa bahwa menabung tidak akan membawa hasil karena masa depan terasa terlalu tidak pasti untuk direncanakan.

Faktor Pemicu Doom Spending

  1. Pengaruh media sosial dan influencer
    Gaya hidup mewah yang sering ditampilkan di media sosial menciptakan rasa FOMO (Fear of Missing Out). Banyak orang merasa tertekan untuk ikut menampilkan gaya hidup serupa, meski tidak sesuai dengan kondisi keuangan mereka.

  2. Promo dan diskon besar-besaran
    Situs e-commerce sering menghadirkan penawaran menarik yang memancing hasrat belanja. Diskon besar bisa terasa seperti kesempatan langka, padahal itu hanyalah strategi pemasaran.

  3. Kebutuhan akan penghiburan instan
    Di tengah tekanan hidup, belanja bisa menjadi pelarian. Banyak orang menggunakan pengeluaran uang sebagai cara untuk merasa lebih baik, meski hanya sesaat.

Baca Juga:  Inovasi Fitur Digital Banking yang Tingkatkan Pengalaman Nasabah dan Dorong Pertumbuhan Keuangan Pribadi

Dampak Doom Spending pada Kehidupan Finansial

Doom spending bukan cuma soal dompet yang cepat kosong. Ada dampak lebih dalam yang seringkali tidak langsung terlihat, tapi bisa berpengaruh besar di masa depan.

1. Kesulitan Menabung

Tanpa perencanaan, uang yang seharusnya disisihkan untuk tabungan malah habis untuk hal-hal yang tidak penting. Survei Katadata Insight Center menunjukkan bahwa 49 persen Gen Z Indonesia mengalami kesulitan menabung secara konsisten.

2. Stres Finansial

Paradoksnya, belanja untuk menghilangkan stres justru bisa memperburuk kondisi finansial. Ketika uang habis dan tagihan datang, rasa cemas bisa meningkat. Ini menciptakan lingkaran setan yang sulit dihentikan.

3. Gangguan Kecemasan Jangka Panjang

Bukan hanya soal uang, doom spending juga bisa berdampak pada kesehatan mental. Banyak orang merasa bersalah setelah belanja berlebihan, yang bisa memicu kecemasan dan bahkan depresi.

Cara Mengatasi Doom Spending

Mengenali masalah adalah langkah pertama. Tapi tanpa tindakan nyata, perubahan tidak akan terjadi. Berikut beberapa langkah konkret yang bisa membantu menjauhkan diri dari kebiasaan belanja impulsif.

1. Bedakan Antara Kebutuhan dan Keinginan

Sebelum membeli sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini benar-benar dibutuhkan?” Jika jawabannya tidak yakin, lebih baik tunda dulu. Gunakan aturan 24 jam—tunggu sehari sebelum membeli barang tersebut. Ini memberi waktu untuk berpikir ulang dan menghindari pembelian emosional.

2. Buat Anggaran Bulanan yang Realistis

Anggaran adalah peta keuangan yang membantu menjaga pengeluaran tetap terkendali. Alokasikan sebagian pendapatan untuk kebutuhan pokok, sisanya untuk tabungan dan hiburan. Idealnya, 50-70 persen dari pendapatan digunakan untuk biaya hidup, termasuk cicilan dan gaya hidup.

3. Ganti Kebiasaan Negatif dengan Aktivitas Positif

Alih-alih belanja untuk melepaskan stres, coba aktivitas lain yang lebih sehat. Meditasi, olahraga, membaca, atau menulis bisa menjadi cara yang lebih produktif untuk mengelola emosi. Ini juga bisa menjadi “healing” yang tidak menguras kantong.

4. Batasi Akses ke Platform Belanja

Hapus aplikasi belanja dari ponsel atau nonaktifkan notifikasi promo. Semakin sulit akses, semakin kecil kemungkinan tergoda untuk belanja impulsif. Gunakan waktu yang biasa digunakan untuk scroll toko online untuk melakukan hal lain yang lebih bermanfaat.

Baca Juga:  Memahami Dampak Suku Bunga Tinggi pada Deposito agar Investasi Tetap Menguntungkan

5. Gunakan Aplikasi Pengatur Keuangan

Ada banyak aplikasi yang bisa membantu melacak pengeluaran dan membuat anggaran. Dengan memantau ke mana uang mengalir, lebih mudah untuk mengidentifikasi pola pembelanjaan yang tidak produktif.

Perbandingan Pengeluaran: Sebelum dan Sesudah Mengatur Keuangan

Kategori Pengeluaran Sebelum Mengatur Keuangan Sesudah Mengatur Keuangan
Belanja Impulsif 30% dari pendapatan 5% dari pendapatan
Tabungan Tidak ada 20% dari pendapatan
Cicilan/Hutang 40% 30%
Kebutuhan Pokok 60% 50%
Hiburan 10% 10%

Dengan perubahan kebiasaan, pengeluaran untuk belanja impulsif bisa dikurangi secara signifikan. Sementara itu, tabungan mulai terbentuk dan pengelolaan keuangan menjadi lebih sehat.

Tips Tambahan untuk Mengendalikan Doom Spending

  • Kenali pemicu emosional
    Apakah belanja dilakukan saat merasa sedih, bosan, atau cemas? Mengenali kondisi ini bisa membantu menghentikan kebiasaan belanja sebagai pelarian.

  • Gunakan uang tunai untuk belanja kecil
    Membayar dengan uang tunai membuat kita lebih sadar akan pengeluaran. Ini bisa mengurangi keinginan untuk membeli barang yang tidak penting.

  • Rayakan pencapaian kecil
    Alih-alih membeli barang mahal, rayakan pencapaian dengan cara lain seperti menonton film favorit atau makan di tempat yang disukai.

Kesimpulan

Doom spending adalah tantangan nyata bagi generasi muda yang hidup di era digital dan konsumtif. Tapi bukan berarti tidak bisa diatasi. Dengan kesadaran diri, perencanaan yang matang, dan kebiasaan baru yang lebih sehat, kita bisa mengambil kendali atas keuangan dan masa depan.

Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi ekonomi dan hasil survei terbaru.

Erna Agnesa
Reporter at Desa Pengkol

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.