Beranda » Ekonomi Bisnis » Harga Minyak Global Kembali Anjlok, Brent Sentuh USD87 per Barel

Harga Minyak Global Kembali Anjlok, Brent Sentuh USD87 per Barel

Harga minyak dunia kembali turun setelah sempat melonjak tajam. Brent, sebagai acuan harga global, tercatat berada di kisaran USD87 per barel. Penurunan ini terjadi seiring dengan upaya Badan Energi Internasional (IEA) yang mengusulkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah.

Gerakan ini merupakan respons terhadap lonjakan harga yang dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Pasca-serangan udara intens antara AS-Israel dan Iran, pasar minyak langsung bereaksi dengan volatilitas tinggi. Namun, langkah koordinasi global mulai menunjukkan dampaknya.

Dinamika Harga Minyak Mentah Global

Pergerakan harga minyak dunia selalu dipengaruhi oleh faktor geopolitik, ekonomi, dan pasokan. Dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan di kawasan Teluk Persia menjadi pemicu utama lonjakan harga. Brent bahkan sempat menyentuh angka USD119 per barel, level tertinggi sejak Juni 2022.

Namun, lonjakan tersebut mulai reda setelah IEA mengumumkan rencana pelepasan cadangan minyak darurat. Pasar bereaksi cepat, dan harga pun mulai turun secara bertahap. Brent kini berada di kisaran USD87 per barel, sementara WTI berada di USD83 per barel.

1. Lonjakan Harga Minyak Pasca-Serangan ke Iran

Serangan udara yang dilancarkan oleh AS-Israel ke Iran pada Selasa (10/3/2026) menjadi titik balik lonjakan harga minyak. Pentagon menyebutnya sebagai serangan udara paling intens dalam konflik tersebut. Iran juga mengklaim bahwa 16 kapal penambang ranjau miliknya telah ditembak oleh militer AS di dekat Selat Hormuz.

2. Pelepasan Cadangan Minyak oleh IEA

Sebagai respons terhadap lonjakan harga, IEA mengusulkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah. Langkah ini diambil untuk menstabilkan pasar dan mencegah lonjakan harga yang berlebihan. Negara-negara anggota G7 langsung menggelar pertemuan darurat untuk membahas langkah-langkah koordinasi.

3. Dampak pada Pasokan Minyak Global

Perang di Iran berdampak langsung pada pasokan minyak dari negara-negara Teluk. Produksi sekitar 15 juta barel per hari terganggu. Wood Mackenzie memperkirakan, jika ketegangan berlanjut, harga minyak bisa mencapai USD150 per barel.

Baca Juga:  Harga Emas Dunia Kembali Terkoreksi, Minyak Mentah dan Dolar AS Memimpin Pergerakan Pasar

Faktor yang Mempengaruhi Harga Minyak Dunia

Harga minyak tidak hanya ditentukan oleh pasokan dan permintaan. Ada sejumlah faktor lain yang turut memengaruhi pergerakannya. Geopolitik, kebijakan energi, dan kondisi ekonomi global semuanya berperan penting.

1. Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah

Ketegangan antara AS-Israel dan Iran telah menjadi pemicu utama volatilitas harga minyak. Serangan udara dan ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz membuat investor khawatir akan gangguan pasokan.

2. Kebijakan Cadangan Minyak Darurat

Pelepasan cadangan minyak oleh IEA dan negara-negara G7 menjadi langkah strategis untuk menekan harga. Namun, efektivitasnya tergantung pada seberapa besar cadangan yang dilepaskan dan seberapa cepat dampaknya dirasakan pasar.

3. Permintaan Global yang Fluktuatif

Permintaan minyak juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global. Jika pertumbuhan ekonomi melambat, permintaan minyak cenderung turun. Sebaliknya, jika ekonomi tumbuh pesat, permintaan akan meningkat.

Perbandingan Harga Minyak Dunia: Sebelum dan Sesudah Ketegangan

Berikut adalah perbandingan harga minyak mentah sebelum dan sesudah lonjakan akibat ketegangan di Timur Tengah:

Jenis Minyak Harga Sebelum (USD/Barel) Harga Tertinggi (USD/Barel) Harga Sekarang (USD/Barel)
Brent 95 119 87
WTI 90 115 83

Proyeksi Harga Minyak di Kuartal II 2026

Berdasarkan analisis dari berbagai lembaga riset energi, proyeksi harga minyak dunia di kuartal II 2026 menunjukkan tren yang masih belum stabil. Beberapa faktor seperti kebijakan cadangan, perkembangan geopolitik, dan data ekonomi global akan sangat menentukan arah pergerakan harga.

1. Potensi Penurunan Lebih Lanjut

Jika pelepasan cadangan minyak berjalan efektif dan ketegangan di Timur Tengah mereda, harga minyak berpotensi turun lebih lanjut. Brent bisa kembali ke kisaran USD80 per barel.

2. Risiko Kenaikan Jika Ketegangan Berlanjut

Namun, jika konflik berlarut dan pasokan terus terganggu, harga bisa kembali naik. Wood Mackenzie memperkirakan, dalam skenario terburuk, harga bisa mencapai USD150 per barel.

Baca Juga:  Indeks Saham Wall Street Anjlok Selama Tiga Pekan Akibat Ketegangan Militer Amerika Serikat dan Iran

3. Pengaruh Kebijakan Moneter Global

Bank sentral dunia juga turut memengaruhi harga minyak. Kenaikan suku bunga bisa menekan pertumbuhan ekonomi, yang pada gilirannya mengurangi permintaan minyak.

Tips untuk Mengantisipasi Fluktuasi Harga Minyak

Fluktuasi harga minyak bisa berdampak luas, terutama bagi negara pengimpor minyak. Ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk mengurangi risiko:

1. Diversifikasi Sumber Energi

Mengurangi ketergantungan pada minyak mentah dengan mengembangkan energi terbarukan bisa menjadi solusi jangka panjang.

2. Penggunaan Hedge Kontrak Minyak

Perusahaan yang terlibat dalam transaksi minyak bisa menggunakan kontrak lindung nilai (hedging) untuk mengurangi risiko fluktuasi harga.

3. Pemantauan Kebijakan Global

Mengikuti perkembangan kebijakan energi dan geopolitik secara real time membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih tepat.

Disclaimer

Harga minyak sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik, kebijakan energi global, dan kondisi ekonomi. Data dalam artikel ini bersifat referensi dan dapat berbeda dengan kondisi aktual di pasar.

Muhammad Rizal Veto
Reporter at Desa Pengkol

Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.